Hari Kemerdekaan
Hari kemarin itu 4th of july. Hari kebahagiaan dan kebanggaan Amerika.
Dan meski aku benci mengatakannya, aku menikmati saat saat itu. Here's how.
Setiap tanggal 4 Juli adalah suatu adat bagi orang orang boston untuk berkumpul di sepanjang bahu Charles River, dan menikmati suasana hari itu hingga pada saatnya pukul 8 Boston POPS mulai mengiringi lautan manusia dengan instrumental dan signature songs nya. Lalu pukul 9.30 Boston akan memanjakan mata anak-anaknya dengan tebaran ledakan kembang api di angkasa yg begitu mewahnya. Tahun lalu kita mendapatkan tempat lebih baik karena seorang teman kita kebetulan tinggal di apartemen dekat charles river, sehingga kita bisa dengan nyamannya meninggu tanpa kepanasan dan kehujanan. Tapi tahun ini berbeda. Kita harus tag tempat di dekat charles river supaya kita bisa melihat kembang api itu.
Singkat cerita, malamnya semangat itu mulai terpancar setelah SEMUA orang ikut menyanyikan bersama sama
Sweet Caroline (lagu yg selalu dinyanyikan pd malam ini oleh Neil Diamond), Yankee Doodle, America The Beautiful, dan dilanjutkan dengan kembang api. Betapa mewahnya perasaan itu. Semua orang berpelukan menatap langit, bersyukur akan apa yg telah diberikan negara mereka pada mereka. Dan aku berpikir tentang Indonesia.
Kapankah Indonesia-ku akan bisa menjadi seperti ini? Mungkin yg lebih tepat, Kapankan bangsa Indonesia-ku akan bisa merasa seperti itu? Bersyukur atas apa yg telah diberikan kpd mereka.
Ya, aku tau, sedikit apa yg bisa diberikan Indonesia untuk rakyatnya. Tapi itu karena banyak lintah penghisap darah yang berada diposisi atas! Dan bangsa Indonesia tahu itu, tapi tidak melakukan suatu tindakan apapun! Mereka tahu akar kebobrokan sistem kita adalah korupsi, tapi tetap saja mereka melakukan tindak korupsi (walau sekecil kecilnya itu). Misalnya, masih saja ayahku memberikan selembar ribuan kepada penjaga tiket kereta api untuk bisa mengantarku ke dalam, instead membeli tiket masuk yang seharga tidak jauh berbeda (atau malah lebih murah).
Tindakan sekecil-kecilnya, kalau itu berarti melenceng dari peraturan, namanya tetap pelanggaran.
Aku membenci orang yang berkata peraturan ada untuk dilanggar karena pernyataan ini merefleksikan inkosistensi kepribadian orang tersebut. Ada beberapa kemungkinan kepribadian orang yang percaya akan statement absurd itu. Dia cuma manusia yang tidak berpikir panjang, dia ignorance, atau dia memang bajingan.
Orang-orang seperti itu adalah kutu masyarakat yang harusnya dienyahkan dan disiram minyak tanah sehingga tidak menghisapi darah masyarakatnya.
Yang aku sedang pikirkan sekarang itu adalah membangun kebiasaan membaca bibit generasi baru kita. Karena aku merasa, aku pun sebagai rakyat Indonesia lainnya tumbuh dan besar TIDAK dengan budaya membaca. Meskipun aku (dan akupuntahu orang orang lain juga) menulis "hobi : membaca, mendengarkan musik" pada saat aku mengisi "buku profil" teman-temanku di Sekolah Dasar. :)
Tapi itu hanya sekedar tulisan. Amat sangat jarang orang Indonesia yg senang membaca. Dan akupun termasuk salah satunya. Dahulu. Dahulu, aku sangat ecstatic masuk ke Borders hanya untuk membaca komik, buku travel, ataupun resep dessert impian. Tapi mulai setahun yang lalu, aku mulai "belajar" mencintai buku. Berawal dari buku untuk membantu dietku, merambat ke buku konsep diri, dan akhirnya filosofi, bernegara, etc. Dan aku ingin orang lain pun untuk memiliki passion dan sensasi yang sama yg aku alami satu tahun lalu.
Betapa excited nya aku setiap memasuki borders, dan berpikir kali ini buku mana yg mau aku baca. Betapa GILA dan TIDAK MASUK AKAL nya ada tempat seperti ini yang membebaskan orang membaca apapun yang menyediakan buku apapun tanpa larangan ataupun sensor. Apa yg kamu mau cari tahu, tinggal kamu pilih, dan dalam sekejap pengetahuanmu bertambah hanya karena SATU BUAH BUKU dan yang harus kamu lakukan hanyalah MEMBACA. Jika anak-anak indonesia terbiasa untuk membaca, aku yakin ini akan meng-encourage curiousity mereka. Dan hal ini baik untuk membantu mereka mencari jati diri mereka, dan membentuk konsep pola pikir yang terbuka pada segala hal. Kapankah ini?
Anyhow, mimpiku untuk indonesia bisa memiliki nasionalisme itu selalu akan di sini. Dan aku tidak akan pernah berhenti bermimpi.